Putu Lanang Celaket

Dulu, sang ibu (alm) Soepijah membuka warung Puthu Lanang pada tahun 1935 di pinggir jalan setapak. Yakni di Jl Jaksa Agung Suprapto Gang Buntu, Celaket, Kota Malang. Warung yang pernah jadi jujukan tentara Jepang ini dikelola penuh oleh anak keduanya, Siswojo, 49. Kini, seribu porsi puthu lanang ludes setiap hari.
Jajanan pasar ini, dulu disebut Puthu Celaket saja. Sebab, lokasinya ada di sekitar Jl Jaksa Agung Suprapto atau yang lebih dikenal dengan nama Celaket. Namun, karena ada beberapa orang yang ’nunut populer’ dengan menggunakan nama Puthu Celaket dan mengatasnamakan sebagai cabang.
Sejak awal berdiri, kuliner legendaris ini sudah mampu memikat lidah ribuan bahkan jutaan pelanggannya. Dalam sehari saja, sekitar 1.000 porsi puthu, lupis, kelepon, dan cenil mampu terjual. Jika dilihat dari jalan besar, lokasi kuliner legendaris ini tidak begitu kentara. Sebab, letaknya agak masuk ke dalam mulut gang.
Putu-lanang2

Kendati tidak begitu terlihat dari luar gang, tapi nama kuliner ini sangat terkenal. Bahkan, jika bertanya kepada para tukang becak saja, dengan mudah para abang becak yang ada di sekitar lokasi akan menunjukkan venue-nya.
Hampir setiap sore hingga malam hari, kuliner yang sudah ada sejak sebelum zaman kemerdekaan ini selalu dipadati pembeli. Bahkan tidak sedikit yang rela antre untuk mendapatkan seporsi cenil, lupis, kelepon,
dan tentu saja puthu ini. Harga untuk seporsi jajanan khas pasar ini cukup terjangkau, yakni Rp 10 ribu per 10 bijinya.
Akhirnya pada tahun 2000 lalu, Siswojo mengganti nama kuliner ini dengan Puthu Lanang. Alasannya cukup lucu. Sebab, ada jajan pasar dengan nama puthu ayu, sehingga Siswojo membuat ’tandingannya’ dengan memakai nama Puthu Lanang. Selain itu, pada saat nama itu dikukuhkan, seluruh cucu dari pendiri, (alm) Soepijah adalah laki-laki. Jadi, nama Puthu Lanang bisa diartikan sebagai putu lanang alias cucu lelaki.