Tampilkan postingan dengan label Banyuwangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banyuwangi. Tampilkan semua postingan

Taman Nasional Meru Betiri

Taman nasional Meru Betiri mungkin kalah populer dibandingkan taman nasional lainnya. Padahal
Taman-Nasional-Meru-Betiri
taman nasional yang terletak di pantai selatan Jawa Timur ini, menyimpan keindahan alam dan kekayaan flora dan fauna yang luar biasa.

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) yang mempunyai luas wilayah kurang lebih 580 km2, secara administratif masuk dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember. Namanya diambil dari gunung tertinggi yang terdapat di dalamnya, yaitu Gunung Meru yang memiliki ketinggian 500 mdlp dan Gunung Betiri (1.223 m).
Kekayaan Meru Betiri ternyata tak hanya Penyu. Di balik lebatnya hutan Meru Betiri tersembunnyi hamparan perkebunan karet tua peninggalan Belanda lengkap dengan perkampungannya.
Sebelum ditetapkan sebagai kawasan lindung, Meru Betiri memang telah dibuka oleh Belanda sebagai salah satu lokasi perkebunan baru. Para pekerja perkebunan berasal dari Madura dan kawasan lain untuk mengelola perkebunan karet, kopi, dan kakao. Pabrik pengolahan karet pun dibuka untuk mengolah langsung hasil perkebunan.
TEMPAT WISATA DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI
Kawasan-Taman-Nasinal-Meru-Betiri

Taman Nasional Meru Betiri menawarkan beberapa tempat indah yang bisa di kunjungi, seperti Pantai Rajegwesi, Pantai Batu, Teluk Hijau, dan tentu saja Pantai Sukamade. Selain itu, Anda juga bisa melihat Goa Jepang, Bunga Raflesia, dan sebagainya.
Di sepanjang jalan dengan jalur trek yang menantang, anda akan menikmati pemandangan yang indah. Pohon kluwak, ketapang, asem, dan pepohonan lain sebesar rentangan tangan berpadu dengan perdu dan lilitan rotan jawa menghiasi selama perjalanan menyusuri Taman Nasional Meru Betiri. Sesekali gerombolan monyet ekor panjang terlihat bergelantungan di pepohonan mencari makan di pohon cermai. Anda juga dapat melihat kehidupan pluralis diantara warga setempat, dimana masjid, gereja, vihara, dan pura berjajar bahkan saling berdampingan atau juga yang bersebarangan jalan.
Perjalanan menuju Sukamade juga sangat disayangkan jika Anda lewatkan begitu saja. Bagi yang tidak puas dengan petualangan menyaksikan penyu bertelur dapat melakukan kegiatan lain, seperti menjelajah hutan di seputar Bandealit dan Gunung Gendong. Juga bisa panjat tebing dan meniti tali turun tebing di tebing pantai Bandealit.
Obyek wisata lain yang ada di pantai sukamade adalah Hutan mangrove yang terletak di muara timur pantai Sukamade. Sungainya dapat dipakai untuk berkano sambil melakukan pengamatan burung. Burung-burung tersebut diantaranya burung Roko-Roko, Elang laut, Dara Laut dan masih banyak lagi burung burung yang dapat diamati. Pengamatan burung tersebut biasanya dilakukan sambil menunggu matahari terbenam.
Jika Anda berniat untuk bermalam, beberapa pondok penginapan tersedia di sekitar kawasan wisata ini, sehingga jangan khawatir jika ingin menghabiskan waktu seharian penuh di kawasan Sukamade. Fasilitas yang terdapat di lokasi ini antara lain: Pondok Wisata, Camping Ground yang dilengkapi dengan pendopo untuk ruang pertemuan, Shelter, jalan trail wisata, information centre, laboratorium dan pondok kerja

Pantai Teluk Ijo, (Green Bay)


Teluk-Hijau-Green-Bay-BanyuwangiTeluk Hijau atau sering juga di sebut green bay teluk ini mempunyai daya tarik sendiri dengan pesona pasir putih nan lembut, air terjun setinggi 8 meter dan pemandangan karang yang sangat indah. Sesuai dengan namannya teluk ini berwarna hijau jika di lihat dari kejauhan. Ini berbeda dengan kebanyakan teluk atau laut yang warnanya biru.
Warna hijau tersebut karena di dasar perairan dangkalnya terdapat alga yang memantulkan warna hijau ke atas permukaan perairan. Teluk hijau terletak di kabupaten banyuwangi bagian selatan pesanggrahan desa sarongan,wilayahnya termasuk dalam taman nasional
Meru Betiri.
Teluk-Hijau-Green-Bay-Banyuwangi2
inilah wisata alam yang indah tersembunyi di banyuwangi, pantai yang masih sepi dari pengunjung ini memiliki hamparan pasir putih yang menawan, pasirnya begitu halus sehingga mudah melekat ke kulit, perpaduan antara pasir putih, air laut yang jernih berwarna kehijauan dan suasana yang asri akan membuat siapapun yang melihatnya begitu kagum.
 

Pantai Pulau Merah

Pulau Merah masyarakat biasa menyebut pulau kecil yang terletak di desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, . Pulau Merah yang berada di selatan kabupaten Banyuwangi ini, saat ini sudah dikatakan mampu memikat wisatawan yang sangat indah dengan pemandangan sekitar pantai dan membentuk gunung yang berada di tengah pantai.
PantaiPulauMerahbanyuwangi
 
Jika di lihat dari sisi bagian timur, ini nampak seperti barisan gunung serta terdapat banyak pepohonan kelapa dan pisang yang membuat pulau merah ini terlihat ramah juga subur. Sementara pada bagian selatan ini, para wisatawan atau pengunjung bisa menikmati keindahan sunsite yang sangat jelas, seperti tenggelam di dalam laut. 
 
Tak hanya itu saja, ombak besar yang ada di dan berada di Teluk Pancer ini sangat disukai para penggemar olahraga surfing atau selancar yang biasanya hanya ada di . Pada saat musim liburan di bulan Mei sampai dengan Juni, banyak para wisatawan mancanegara yang datang dan ingin berselancar.
Dengan suasana sekitar pantai yang sejuk disertai dengan jejeran pegunungan yang berwarna hijau, sehingga membuat pengunjung seperti berada yang dikenal sebagai surga dunia Indonesia.
 
Dengan kondisi ombak yang begitu besar sangatlah cocok untuk dijadikan permainan olah raga selancar, selain itu pantai pulau merah ini juga sangat ramah lingkungan yang benar-benar menyatu dengan alam, sehinggan membuat wisata ini cukup indah dan paling popular di Jawa Timur. Tak hanya itu pula, angin laut cukup kencang, sehingga menyebabkan gelombang dan arus lautnya relatif tinggi, yang mencapai hingga 4 / 5 meter.
Jika anda sedang berlibur ini, para wisatawan dapat menyewa papan selancar untuk mencoba atraksi menunggang ombak, bagi anda yang belum pernah melakukan olah raga ini, ada baiknya jika anda memiliki kesempatan untuk menikmati surfing atau selancar. Akan tetapi bila belum cukup memiliki keberanian atau nyali, para wisatawan juga dapat menikmati senja yang menawan dengan langit merah turun melalui sederetan bukit di sebelah barat pantai.
Nah bagi anda yang belum pernah ke tempat yang satu ini, perlu anda ketahui ini jarang anda temui di negeri kita yaitu Indonesia. Karena wisata Pantai Pulau Merah ini memiliki potensi yang sangat tinggi serta mampu memikat hati para wisatawan lokal maupun mancanegara.
 
 

Taman Nasional Alas Purwo

Taman Nasional Alas Purwo merupakan satu dari dua taman nasional yang terdapat di Banyuwangi atau sering disebut TNAP, yang memiliki luas area seluas 43.420 hektare dan berada di ketinggian 322 meter di atas permukaan laut ini, semula bernama Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan, dan sejak tahun 1992 secara resmi dijadikan taman nasional oleh Kementerian Kehutanan. Wilayah Taman Nasional Alas Purwo ini masuk ke dalam dua kecamatan sekaligus, yaitu Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi.
Taman-nasional-alas-purwo-banyuwangi-galeri2


Nama Alas Purwo sendiri memiliki arti hutan pertama atau hutan tertua di Pulau Jawa. Istilah Purwo dalam Bahasa Jawa berarti kawitan atau permulaan, sehingga Alas Purwo berarti hutan pertama atau hutan tertua di Pulau Jawa. Alas Purwo dipandanga sebagai situs penciptaan pertama di bumi, tanah awal mula. Bagi masyarakat Banyuwangi, tempat ini dikenal sangat angker dan dikeramatkan. Penduduk sekitar percaya di Alas Purwo terdapat istana jin yang menjadi tempat bagi seluruh jin yang ada di Pulau Jawa berkumpul. Warga sekitar sering melihat penampakan-penampakan makhluk halus. Hal ini diperkuat dengan kondisi alam setempat yang berupa hutan yang masih perawan, banyaknya gua, dan terdapat sejumlah situs-situs yang seringkali dijadikan tempat pelaksanaan beragam ritual kepercayaan dan keagamaan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari legenda bahwa Alas Purwo merupakan tempat terakhir dari pelarian rakyat Majapahit dari desakan penyebaran Agama Islam pada masanya.
 
taman-nasional-alas-purwo
Setiap tahun ratusan bahkan ribuan umat Hindu dari Bali dan Banyuwangi mengunjungi sebuah pura yang terletak di tengah Alas Purwo. Sedangkan setiap tanggal 1 Suro dan saat bulan purnama, banyak warga yang datang ke Alas Purwo untuk bersemedi, mencari wangsit atau sekadar lelaku gaib. Sehingga banyak yang meyakini, Alas Purwo adalah tempat yang paling angker di Pulau Jawa.
Hutan di kawasan Alas Purwo menjadi salah satu perwakilan ekosistem hutan hujan dataran rendah yang ada di Pulau Jawa. Kawasan ini memiliki sedikitnya 6 ekosistem, yaitu hutan bambu, hujan pantai, hutan mangrove, hutan alam, hutan tanaman dan padang rumput. Hutan bambunya mendominasi sekitar 40% kawasannya. 
 
Sebagai hutan hujan, TNAP menjadi tempat yang ideal bagi beragam flora dan fauna di dalamnya. Setidaknya terdapat 13 jenis bambu serta 580 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana dan pepohonan. Diantaranya adalah pohon jati, sawo kecik, dan bambu.
Disamping kekayaan flora, Alas Purwo juga kaya akan jenis fauna daratan, baik kelas mamalia, aves dan herpetofauna
(reptil dan amfibi). Ditemukan 50 jenis mamalia hidup di Alas Purwo. Beberapa jenis mamalia yang ada di sana adalah banteng (Bos javanicus), rusa (Cervus timorensis), ajag (Cuon alpinus), babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus), lutung (Tracypithecus auratus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) jelarang (Ratufa bicolor), rase (Vivericula indica), linsang (Prionodon linsang), luwak (Paradoxurus hermaprhoditus), garangan (Herpestes javanicus), kucing hutan (Felis bengalensis), dan burung merak. Selain itu terdapat beragam spesies penyu bersemayam di TNAP ini.
Jika beruntung, hewan-hewan tersebut bisa anda saksikan secara bebas berkeliaran di pinggir jalan yang terdapat di dalam kompleks Alas Purwo.
alas-purwo-national-park-1
 
Berwisata ke Taman Nasional Alas Purwo jangan sampai melewatkan mampir ke Sadengan, yang jaraknya hanya sekitar 2 kilometer dari pintu masuk Pos Rawa Bendo.
Sadengan merupakan padang savana membentang seluas 84 hektar yang berada pada Taman Nasional Alas Purwo. Berada di Sadengan seakan-akan Anda seperti berada di Afrika. Di sini Anda akan menjumpai kawanan satwa liar, seperti Sapi, Banteng Jawa, Rusa, sampai burung merak yang lagi bergerombol dan berkeliaran bebas di Sadengan. Ada juga anjing hutan alias Ajag. Anda akan merasa terkagum-kagum saat melihat pemandangan alam Sadengan.
Untuk memberi keleluasaan bagi para pengunjung di Sadengan didirikan menara pandang dari kayu dengan tiga lantai. Pengunjung bisa menaiki menara dan melihat kehidupan aneka satwa di alam bebas. Hal ini karena pengunjung dilarang memasuki padang savananya. Tujuannya selain untuk melindungi habitat satwa-satwa di sana, juga demi keselamatan pengunjung juga. Hanya tim peneliti dan konservasi yang diijinkan masuk ke padang savana.
Namun pengunjung masih bisa menikmati hamparan padang savana nan luas dari balik pagar pembatas atau naik ke atas menara pandang untuk melihatnya dari ketinggian.
Bila Anda ingin memotret lebih dekat banteng atau rusa di alam liar tersebut yang lagi berjemur atau mencari rumput, mintalah bantuan kepada petugas untuk mengantarkan Anda memasuki padang savana.
 
 


 

Deskripsi dan Sejarah Banyuwangi

Deskripsi
Banyuwangi adalah Kabupaten yang terletak di ujung timur pulau jawa. Disebelah utara, Banyuwangi berbatasan dengan Kabupaten Situbondo, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan selat Bali dan sebelah selatan berbatasan denan Samudera Hindia. Secara geografis Banyuwangi terletak pada koordinat 7’45’15’-80 43’2′ bujur timur. Posisi tersebut membuat Banyuwangi memiliki keanekaragaman pemandangan alam yang indah, kekayaan seni dan budaya serta adat tradisi.
Panorama alam yang indah dan mempesona membentang dari wilayah utara hingga selatan, serta wilayah barat hingga timur. Hamparan gunung, hutan dan pantai memberikan corak yang berbeda pada masing-masing daerah. Di sebelah utara terdapat kawah ijen yang memiliki keindahan danau yang tiada duanya di dunia. Disebelah Selatan, disuguhkan keajaiban taman nasional alas purwo dengan pantai Plengkung (G-Land) yang berombak tinggi menjadi surga peselancar dunia, dilengkapi dengan hutan alam yang masih perawan dan satwa liar yang habitatnya sudah langka.
Tak kalah menariknya dengan wisata di sebelah selatan kabupaten Banyuwangi adalah, Taman Nasional Merubetiri. Disinilah habitat asli Harimau Jawa yang merupakan satu-satunya di dunia. Selain itu, merubetiri juga sebagai tempat penangkaran penyu terbesar di Indonesia.


Tiga tempat tersebut merupakan sentral wilayah pengembangan pariwisata di Banyuwangi yang disebut dengan “TRIANGLE DIAMOND” atau “SEGITIGA BERLIAN”.
Banyuwangi juga kaya akan keanegaragaman seni dan budaya, serta adat tradisi. Salah satu kesenian khas Banyuwangi yang sudah terkenal adalah Tari Gandrung, merupakan tarian khas yang digunakan untuk menyambut para tamu, tarian ini menjadi maskot pariwisata Banyuwangi. Beberapa kesenian khas Banyuwangi antara lain: Seblang, Kuntulan, Damarwulan, Barong, Angklung, Kendang Kempul, Jaranan dan kesenian khas daerah lainnya.


Tidak ketinggalan pula adat tradisi di Banyuwangi yang setiap tahunnya selalu di laksanakan oleh masyarakat Banyuwangi: Petik Laut, Metik (Metik Padi dan Kopi), Rebo Wekasan, Kebo-keboan, Ruwatan, Tumplek Punjen, Gredoan, Endhog-endhogan dan masih banyak lagi adat tradisi di Banyuwangi.


Kerajinan daerah dan makanan khas hasil home industry penduduk lokal juga banyak di temui di Banyuwangi, seperti: Kerajinan batik tulis, Anyaman bambu, Kerajinan Bathok kelapa dan masih banyak lagi kerajinan khas Banyuwangi.
“Osing” adalah Suku Asli Banyuwangi dan memiliki budaya dan bahasa tersendiri. Di Banyuwangi berdampingan beberapa suku, antara lain: Jawa, Madura, Bali dan Banjar. Suku jawa menjadi mayoritas penduduk Banyuwangi.


Banyuwangi kota yang elok, dengan beragam tempat-tempat wisata eksotis khas tropis, Anda wajib menjadi saksi keelokan Banyuwangi.
 
Sejarah 
Merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak perang Puputan Bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger ( putra Wong Agung Wilis ) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768.
 
Namun sayang peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang pihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke Pulau Banda ( Lekkerkerker, 1923 ).Berdasarkan data sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan keajayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan ( Ibid.1923 :1045 ).


Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur ( termasuk Blambangan ) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya. Namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai barang simpanan, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu, kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat memina bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat ke Blambangan (Ibid 1923:1046).


Namun barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil banyuwangikab.go.id ( yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung bergerak untuk segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peprangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 ( 5 tahun ) itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.


Dengan demikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yag kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767. Dan karena itu mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi ( puncaknya ) pada tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.

Asal UsulKonon, dahulu kala wilayah ujung timur Pulau Jawa yang alamnya begitu indah ini dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Sulahkromo. Dalam menjalankan pemerintahannya ia dibantu oleh seorang Patih yang gagah berani, arif, tampan bernama Patih Sidopekso. Istri Patih Sidopekso yang bernama Sri Tanjung sangatlah elok parasnya, halus budi bahasanya sehingga membuat sang Raja tergila- gila padanya. Agar tercapai hasrat sang raja untuk membujuk dan merayu Sri Tanjung maka muncullah akal liciknya dengan memerintah Patih Sidopekso untuk menjalankan tugas yang tidak mungkin bisa dicapai oleh manusia biasa. Maka dengan tegas dan gagah berani, tanpa curiga, sang Patih berangkat untuk menjalankan titah Sang Raja. Sepeninggal Sang Patih Sidopekso, sikap tak senonoh Prabu Sulahkromo dengan merayu dan memfitnah Sri Tanjung dengan segala tipu daya dilakukanya. Namun cinta Sang Raja tidak kesampaian dan Sri Tanjung tetap teguh pendiriannya, sebagai istri yang selalu berdoa untuk suaminya. Berang dan panas membara hati Sang Raja ketika cintanya ditolak oleh Sri Tanjung.
 
Ketika Patih Sidopekso kembali dari misi tugasnya, ia langsung menghadap Sang Raja. Akal busuk Sang Raja muncul, memfitnah Patih Sidopekso dengan menyampaikan bahwa sepeninggal Sang Patih pada saat menjalankan titah raja meninggalkan istana, Sri Tanjung mendatangi dan merayu serta bertindak serong dengan Sang Raja.


Tanpa berfikir panjang, Patih Sidopekso langsung menemui Sri Tanjung dengan penuh kemarahan dan tuduhan yang tidak beralasan. Pengakuan Sri Tanjung yang lugu dan jujur membuat hati Patih Sidopekso semakin panas menahan amarah dan bahkan Sang Patih dengan berangnya mengancam akan membunuh istri setianya itu. Diseretlah Sri Tanjung ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. Namun sebelum Patih Sidopekso membunuh Sri Tanjung, ada permintaan terakhir dari Sri Tanjung kepada suaminya, sebagai bukti kejujuran, kesucian dan kesetiannya ia rela dibunuh dan agar jasadnya diceburkan ke dalam sungai keruh itu, apabila darahnya membuat air sungai berbau busuk maka dirinya telah berbuat serong, tapi jika air sungai berbau harum maka ia tidak bersalah.


Patih Sidopekso tidak lagi mampu menahan diri, segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah memercik dari tubuh Sri Tanjung dan mati seketika. Mayat Sri Tanjung segera diceburkan ke sungai dan sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti kaca serta menyebarkan bau harum, bau wangi. Patih Sidopekso terhuyung-huyung, jatuh dan ia jadi linglung, tanpa ia sadari, ia menjerit "Banyu..... ... wangi............... . Banyu wangi ... .." Banyuwangi terlahir dari bukti cinta istri pada suaminya.
sumber : banyuwangikab.go.id
 

Pantai G-Land

Pantai Plengkung Banyuwangi berada dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Lokasinya terletak di sebelah tenggara Pulau Jawa, berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.Huruf “G” pada nama pantai yang dikenal pula sebutan G-Land memiliki arti, yakni “Grajagan”. Grajagan adalah nama sebuah teluk berlokasi persis di sebelah barat pantai tersebut. Topografi wilayah Pantai Plengkung dikelilingi hutan tropis alami yang indah di banyuwangi. Dahsyatnya ombak di Pantai Plengkung Banyuwangi membuatnya masuk ke dalam jajaran “The Seven Giant Waves Wonder” sebagai salah satu yang terbesar di dunia. 
PantaiGlandBanyuwangi1

Ketinggian ombak dapat mencapai hingga 4-6 meter dengan formasi 7 gulungan gelombang bersusun. Formasi ini dapat mencapai panjang sejauh 2 kilometer. Inilah sebab mengapa para peselancar profesional memiliki ketertarikan tinggi untuk menaklukkan ombak Pantai Plengkung dan merupakan salah satu tujuan objek wisata
pantai di daerah jawa timur. 
Pantai Plengkung memiliki ombak yang selalu ada terus-menerus di sepanjang tahun. Di bulan April – Agustus, ombak lautnya mencapai puncak tertinggi. Tidak aneh jika Pantai Plengkung telah lima kali dijadikan sebagai tempat kegiatan surfing berskala Internasional. Ada empat tipe ombak di Pantai Plengkung. Para peselancar menyebut ombak paling kecil dengan istilah “chickens”, lalu “speedies”, dan “monkey trees”. Ombak terbesar dinamai dengan “kongs”.