Tentang Kota JemberBerbatasan
langsung dengan Kabupaten Probolinggo dan Bondowoso di utara, Kabupaten
Banyuwangi di timur, Samudra Hindia di selatan dan Kabupaten Lumajang
di barat, membuat Kabupaten Jember sebagi pusat regional di kawasan
tapal kuda.
Dengan
luas 3.293,34 Km2, penduduk yang banyak mendiami kabupaten Jember
adalah suku Jawa dan suku Madura, dengan penduduk minoritas Tionghoa dan
suku Osing. Suku Madura banyak berdomisili di daerah utara dan suku
Jawa banyak bertempat tinggal di Selatan dan bagian pesisir pantai.
Bahasa
sehari-hari yang sering digunakan adalah bahasa Jawa dan Madura dan
yang memunculkan beberapa percampuran bahasa dari dua budaya tersebut.
Adanya kebudayaan Jawa dan Madura di Jember melahirkan kebudayaan baru
yang bernama budaya Pendalungan.
Sebagian
besar penduduk Jember berprfesi sebagai petani, dimana banyak
perkebunan pribadi ataupun perkebunan yang dikelola oleh PTP Nusantara
Tarutama Nusantara. Jember terkenal sebagai salah satu penghasil
tembakau utama di Indonesia dan banyak memproduksi cerutu.
Selain
dimanfaatkan sebagai pertanian, banyak perkebunan juga dimanfaatkan
sebagai agro wisata untuk keperluar pariwisata Jember. Selain itu,
terdapat beberapa obyek wisata potensial seperti pantai yang bisa
dikunjungi saat berkunjung ke Jember.
Sejarah Kota JemberAsal
Usul Jember Ada banyak versi tentang asal usul kota Jember. paling
masuk akal (subyektif) Pada jaman dulu. Saat pulau Jawa masih lebih
banyak hutan belantara dibanding populasi yang ada. Manusia seringkali
melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang lebih baik. Ini
bercerita tentang dua kelompok migrasi. Kelompok pertama berasal dari
suku Jawa. Jawa timur pedalaman. Seperti Kediri, Tulungagung,
Trenggalek, Blitar, Bojonegoro, Ponorogo dan sekitarnya. Kelompok
migrasi kedua adalah Dari suku Madura. Kedua kelompok tersebut mencari
tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Keduanya bertemu pada satu
titik. Kelompok pertama dari suku Jawa berkata,”Nang kene ae, lemahe sik
jembar”. Artinya, disini saja tanahnya masih luas. Kelompok kedua dari
suku Madura juga berujar, “Iyeh, neng dinnak beih, tananah gik jembher”.
Artinya, Iya disini saja, tanahnya masih luas. Begitulah awal
terjadinya akulturasi. Percampuran kebudayaan. Seiring dengan
berjalannya waktu, kata kata jembar dan jembher berevolusi menjadi
seperti yang kita tahu sekarang, JEMBER. Itulah Jember bila dilihat dari
legenda yang ada.

Bahwa kota ini lahir bukan disebabkan oleh reruntuhan kerajaan, namun memang sengaja dibangun.
Jember
dalam lacakan sejarah Sejarah hanya berhasil melacak daerah ini sampai
dengan 1859. Sebelum itu, hanya berupa praduga. Bisa jadi ini karena
Jember bukanlah daerah reruntuhan kerajaan. Adapun benda benda kuno yang
ditemukan di daerah ini disinyalir merupakan peninggalan kerajaan
Majapahit atau Blambangan (Atau kerajaan lain yang sempat melintas di
sini.
Bagaimana Jember sebelum 1859Jember
hanya merupakan sebuah hutan yang luas dengan pohon pohon yang besar.
Tanahnya berawa hingga menyuburkan segala jenis penyakit seperti wabah
kolera dan disentri. Bila ingin tinggal di daerah ini, anda harus bisa
mengatasi ganasnya alam. Itu gambaran singkatnya tempo doloe
Jember
pada 1859 Dimulai dari sebuah perkebunan di Jember. Namanya LMOD. Atau
lebih lengkapnya, N.V. Landbauw Maatshcappij Oud Djember. Berdiri di
Jember tahun 1859. Pertengahan abad 19 Masehi. Siapa pendirinya?
Pendirinya adalah pengusaha asal Belanda. Ada 3 leader. George Birnie,
Matthiasen dan Van Gennep. Adanya LMOD ini melahirkan beberapa hal.
Pertama,
mengundang perusahaan swasta lain untuk menanamkan modalnya ke daerah
Jember. Berikutnya, kebutuhan akan tenaga kerja. Berhubung pribumi
Jember sedikit, maka dihadirkan tenaga kerja dari luar wilayah yaitu
tenaga kerja dari Madura. Dengan alasan mempunyai karakter pekerja keras
dan ulet. Namun demikian, pihak colonial kesulitan untuk masalah
pengaturan. Maka dari itu lahir kebijakan berikutnya. Mendatangkan
tenaga kerja dari wilayah pedalaman Jawa timur. Ini untuk memudahkan
control dan pengaturan. Menurut pihak koloni, masyarakat Jawa tidak
banyak melahirkan pertentangan. Mempunyai kecenderungan watak penurut. Kedua
kenapa suku Jawa dan Madura tertarik ke Jember. Karena lancarnya Jalur
transportasi. Pada akhirnya, daerah ini semakin berkembang. Untuk
mengangkut hasil bumi dan sebagainya, pihak kolonial butuh alat
transportasi sebagai solusinya. Lalu dibukalah jalur kereta api dan
selesai pada awal abad 20. Dibukanya jalur kereta api tahun 1912 dari
Surabaya-Probolinggo-Jember dibarengi dengan membuat jalan darat
(rintisan) yang menghubungkan daerah terpencil menuju Jember. Itu
membuat terjadinya gelombang migrasi yang besar. Terutama dari daerah
daerah di bagian barat. Jember dianggap memiliki prospek yang lebih
baik.
Ditempat yang baru dibuka ini mereka menaruh harapan untuk
diri dan keluarganya. Mereka ingin memperoleh penghasilan yang lebih
baik. Perpindahan penduduk Madura, Jawa serta suku suku lain ke Jember
juga terjadi di wilayah karesidenan Besuki. Alasannya karena Jember
termasuk wilayah Afdeling Bondowoso. Bondowoso sendiri termasuk wilayah
dari karesidenan Besuki. Perpindahan itu menggunakan berbagai macam
cara. Seperti perdagangan, sebagai tenaga kerja buruh dan ekspedisi
Militer. Kenapa mereka memilih Jember untuk dijadikan areal perkebunan?
Jember mendapat perhatian dari pengusaha swasta Belanda karena beberapa
hal berikut ini : 1. Masalah pengairan Tersedianya air yang sangat cukup
2. Tanahnya Subur Kesuburan tanah ini cocok untuk perkebunan 3. Masalah
infrastruktur transportasi dan komunikasi Infrastruktur transportasi
dan komunikasi di Jember relatif bisa berkembang dibanding dengan
wilayah yang lain. Ini sudah menjadi gambaran dan pertimbangan pihak
kolonial. 4. Sudah ada masyarakat lokal di Jember (sebelum 1859).
Masyarakat lokal Jember ini sudah bisa menanam tembakau. Meskipun dengan
jumlah yang sedikit dan untuk keperluan lokal saja. Masih banyak lagi
sejarah kota kecil ini yang terlacak, meskipun jauh lebih banyak lagi
yang belum terlacak. Pemerintah Kabupaten Jember juga tidak tinggal
diam.
Jember
kesulitan menentukan hari lahir yang sebenarnya. Dari kesulitan
menentukan hari lahir, merembet pada kesulitan kesulitan yang lain.
Contoh paling nyata, Jember selalu bingung menentukan arah budayanya.
Istilah kasarnya, orang Jember selalu minder manakala harus membicarakan
makanan khas, oleh oleh khas Jember dan kesenian milik Jember. Alhasil,
Jember sengaja membuat tarian bernama tari lahbako. Jember juga
memproduksi jajanan suwar suwir dan dikatakan sebagai 'asli Jember'
padahal jelas jelas suwar suwir terbuat dari sari tape. Sedang tape
sendiri sudah terlalu identik dengan Kota Bondowoso. Jember adalah
sebuah daerah pandalungan. Tempat bertemunya berbagai budaya. Dua
kebudayaan besar yang mendominasi adalah Jawa dan Madura. Adalah tidak
mungkin mencari keaslian budaya.Semua pasti mengalami akulturasi. Solusi
subyektif Berbicara mengenai solusi, sebuah contoh musik tradisional
patrol. Musik ini tumbuh dan berkembang di kota kecil Jember. Sangat
disayangkan, semakin hari musik rancak yang selalu dirindukan
kehadirannya ini semakin terengah engah dan ditinggalkan.
Ada
anggapan bahwa patrol merupakan seni asli Madura (di sana dikenal dengan
nama musik thong thong). Beberapa kota lain juga memiliki seni musik
tradisional yang semacam ini. Bila masyarakat Jember jeli, mereka akan
menemukan sesuatu yang khas di musik patrol. Perbedaan yang sangat
nampak adalah dari alat musiknya. Musik thong thong Madura menggunakan
saronen sebagai alat tiupnya. Sementara musik patrol menggunakan
seruling. Lagu yang dinyanyikan juga lebih berwarna. Kadang lagu Madura
kadang lirik lirik Jawa. Inilah bukti adanya perkawinan budaya jawa
madura. Dilihat dari namanya, patrol. Dulunya musik ini digunakan oleh
masyarakat Jember untuk memanggil burung dara peliharaannya.
Selain
itu juga sebagai media komunikasi. Ini untuk mengatasi jarak antar
rumah yang berjauhan, juga sebagai penanda manakala sewaktu waktu
terjadi sesuatu. Misalnya bencana alam, pencurian, kematian dan
sebagainya. Mengenai model ketukannya, tergantung kesepakatan. Seiring
perkembangan areal perkebunan, musik patrol juga digunakan untuk
berpatroli keliling kebun, demi memastikan semuanya baik baik saja.
Begitulah, tak ada yang asli di Jember. Kita harus mengesampingkan kata
kata asli. Karena memang lebih bijak bila kata asli diganti dengan kata
khas. penarikan sejarah yang dimulai pada 1859 lahir di wilayah
akademisi Universitas Jember. Tapi itu bukan final. Terbukti, di sana
terdapat celah. Disebutkan bahwa pihak kolonial tertarik membangun
perkebunan tembakau karena sudah ada masyarakat lokal Jember yang bisa
meracik tembakau. Nah, tugas kita hanyalah mencari data di tahun sebelum
1859.
Dan
ini bukan sebuah kemustahilan. Kita contohkan tentang kerajaan
Sriwijaya. Ada peninggalan prasasti dan diyakini, keberadaan Sriwijaya
sudah ada pada abad ke tujuh. Karena peperangan di abad 12,kerajaan ini
jatuh dan terlupakan.
Sumber : kompasiana.com