Tentang Kota LumajangKabupaten
Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung
berapi yaitu Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 m, Gunung Bromo
dengan ketinggian 3.2952 m, dan Gunung Lamongan yang tingginya 1.668 m.Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang adalah sebagai berikut :
- Sebelah barat : Kabupaten Malang
- Sebelah utara : Kabupaten Probolinggo
- Sebelah timur : Kabupaten Jember
- Sebelah selatan : Samudera IndonesiaLumajang
merupakan salah satu kabupaten yang terletak di kawasan tapal kuda
Provinsi Jawa Timur. Di bagian barat laut, yakni di perbatasan dengan
Kabupaten Malang dan Kabupaten Probolinggo, terdapat rangkaian
Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Bagian timur laut adalah ujung barat
Pegunungan Iyang. Bagian Timur yang ber-relief rendah menjadikan
Lumajang memiliki banyak wisata Pantai seperti Pantai Bambang, Watu
Pecak, Watu Godeg, dan Watu Gedeg. Dilingkaran pegunungan semeru
terdapat daerah Piket Nol yang menjadi puncak tertinggi di lintas
perbukitan selatan berdekatan dengan Goa Tetes yang eksotis.
Di
Daerah Sumber Mujur juga terdapat Kawasan Hutan Bambu di sekitar mata
air Sumber Deling yang merupakan kawasan pemuliaan dan pelestarian aneka
jenis tanaman bambu. Di kawasan ini juga terdapat habibat kawanan kera
dan ribuan kelelawar (keloang). Selain itu, di Pasrujambe terdapat
sebuah tempat wisata mata air suci dan pura watu klosot yang menjadi
kawasan tujuan wisata bagi peziarah hindu dari Bali. Ketinggian daerah
Kabupaten Lumajang bervariasi dari 0-3.676 m dengan daerah yang terluas
adalah pada ketinggian 100-500 m dari permukaan laut 63.405,50 Ha (35,40
%) dan yang tersempit adalah pada ketinggian 0-25 m dpl yaitu 19.722,45
Ha atau 11,01 % dari luas keseluruhan Kabupaten. Curah hujan di
Kabupaten Lumajang yaitu 1142 mm/th.
Penduduk
Kabupaten Lumajang umumnya adalah Suku Jawa dan Suku Madura dengan
agama mayoritas Islam. Di Pegunungan Tengger Kecamatan Senduro (terutama
di daerah Ranupane, Argosari, dan sekitarnya), terdapat masyarakat Suku
Tengger yang memiliki bahasa khas dan beragama Hindu. Di Senduro
terdapat semacam bangunan yang menyerupai pura, yang sering di buat
tempat persembahan pada hari besar umat hindu, sedangkan pada hari-hari
biasa pura tersebut dijadikan sebagai tempat pariwisata.
Sejarah Kota LumajangBumi
LUMAJANG sejak jaman Nirleka dikenal sebagai daerah yang
"PANJANG-PUNJUNG PASIR WUKIR GEMAH RIPAH LOH JINAWI TATA TENTREM KERTA
RAHARJA".
PANJANG-PUNJUNG
berarti memiliki sejarah yang lama. Dari peninggalan-peninggalan
Nirleka maupun prasasti yang banyak ditemukan di daerah Lumajang cukup
membuktikan hal itu.Beberapa
prasasti yang pernah ditemukan, antara lain Prasasti Ranu Gumbolo.
Dalam prasasti tersebut terbaca "LING DEVA MPU KAMESWARA TIRTAYATRA".
Pokok-pokok isinya adalah bahwa Raja Kameswara dari Kediri pernah
melakukan TIRTAYATRA ke dusun Tesirejo kecamatan Pasrujambe, juga pernah
ditemukan prasasti yang merujuk pada masa pemerintahan Raja Kediri
KERTAJAYA.Beberapa bukti peninggalan yang ada antara lain :Prasasti Mula MalurungNaskah Negara KertagamaKitab PararatonKidung Harsa WijayaKitab Pujangga ManikSerat Babat Tanah JawiSerat Kanda
Dari
Prasasti Mula Manurung yang ditemukan di Kediri pada tahun 1975 dan
ber-angka tahun 1177 Saka (1255 Masehi) diperoleh informasi bahwa
NARARYYA KIRANA, salah satu dari anak Raja Sminingrat (Wisnu Wardhana)
dari Kerajaan Singosari, dikukuhkan sebagai Adipati (raja kecil) di
LAMAJANG(Lumajang). Pada tahun 1255 Masehi, tahun yang merujuk pada
pengangkatan NARARYYA KIRANA sebagai Adipati di Lumajang inilah yang
kemudian dijadikan sebagai sebagai dasar penetapan Hari Jadi Lumajang
(HARJALU).
Dalam
Buku Pararaton dan KIDUNG HARSYA WIJAYA disebutkan bahwa para pengikut
Raden Wijaya atau Kertarajasa dalam mendirikan Majapahit, semuanya
diangkat sebagai Pejabat Tinggi Kerajaan. Di antaranya Arya Wiraraja
diangkat Maha Wiradikara dan ditempatkan di Lumajang, dan putranya yaitu
Pu Tambi atau Nambi diangkat sebagai Rakyan Mapatih.
Pengangkatan
Nambi sebagai Mapatih inilah yang kemudian memicu terjadinya
pemberontakan di Majapahit. Apalagi dengan munculnya Mahapati(Ramapati)
seorang yang cerdas, ambisius dan amat licik. Dengan kepandaiannya
berbicara, Mahapati berhasil mempengaruhi Raja. Setelah berhasil
menyingkirkan Ranggalawe, Kebo Anabrang, Lembu Suro, dan Gajah Biru,
target berikutnya adalah Nambi.
Nambi
yang mengetahui akan maksud jahat itu merasa lebih baik menyingkir dari
Majapahit. Kebetulan memang ada alasan, yaitu ayahnya(Arya Wiraraja)
sedang sakit, maka Nambi minta izin kepada Raja untuk pulang ke
Lumajang. Setelah Wiraraja meninggal pada tahun 1317 Masehi, Nambi tidak
mau kembali ke Majapahit, bahkan membangun Beteng di Pajarakan. Pada
1316, Pajarakan diserbu pasukan Majapahit. Lumajang diduduki dan Nambi
serta keluarganya dibunuh.
Pupuh
22 lontar NAGARA KERTAGAMA yang ditulis oleh Prapanca menguraikan
tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Lumajang. Selain NAGARA
KERTAGAMA, informasi tentang Lumajang diperoleh dari Buku Babad. Dalam
beberapa buku babad terdapat nama-nama penguasa Lumajang, yaitu
WANGSENGRANA, PUTUT LAWA, MENAK KUNCARA(MENAK KONCAR) dan TUMENGGUNG
KERTANEGARA. Oleh karena kemunculan tokoh-tokoh itu tidak disukung
adanya bukti-bukti yang berupa bangunan kuno, keramik kuno, ataupun
prasasti, maka nama-nama seperti MENAK KONCAR hanyalah tokoh dongeng
belaka.
Di
tepi Alun-alun Lumajang sebelah utara terdapat bangunan mirip candi,
berlubang tembus, terdapat CANDRA SENGKALA yang berbunyi "TRUSING NGASTA
MUKA PRAJA" (TRUS=9, NGASTA=2, MUKA=9, PRAJA=1). Bangunan ini merupakan
tetenger atau penanda, ditujukan untuk mengenang peristiwa bersejarah,
yaitu pada tahun 1929. Lumajang dinaikkan statusnya menjadi REGENTSCAH
otonom per 1 Januari 1929 sesuai Statblat Nomor 319, 9 Agustus 1928.
Regentnya RT KERTO ADIREJO, eks Patih Afdelling Lumajang (sebelumnya
Lumajang masuk wilayah administratif Kepatihan dari Afdelling
Regentstaschap atau Pemerintah Kabupaten Probolinggo).
Pada
masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan tahun 1942-1949,
Lumajang dijadikan sebagai basis perjuangan TNI dengan dukungan rakyat.Nama-nama
seperti KAPTEN KYAI ILYAS, SUWANDAK, SUKERTIYO, dan lain-lainnya, baik
yang gugur maupun tidak, yang dikenal atau tak dikenal, adalah para
kusuma bangsa yang dengan meneruskan perjuangan para pahlawan kusuma
bangsa itu dengan bekerja secara tulus, menjauhkan kepentingan pribadi,
jujur, amanah, dan bersedia berkorban demi kemajuan Lumajang Tercinta.
Sumber : lumajangkab.go.id
Sumber : lumajang-zone.blogspot.co.id